Mini Atlas – Sebuah Pengantar Singkat

Oleh Michael Haggerty

Dalam rangka Seminar Nasional Sosialisasi Mini Atlas di Jakarta pada 2 Desember 2011, kami membuat video singkat tentang Solo Kota Kita – apa dan bagaimana proyek ini berjalan.

Jika anda ingin mengenalkan Solo Kota Kita dan Mini Atlas kepada teman atau tetangga anda, sarankan untuk lihat di You Tube.

Lihat video:

Leave a comment

Saya Memotret Perubahan

Oleh Ardian Pratomo

Komentar spontan muncul dari warga ketika saya berjalan di setiap kampung di Solo, dan mengumpulkan gambar demi gambar yang mewakili kondisi di setiap kelurahan.

“Mas, kok di photo apa mau dibangun?”

“Wah, dana pembangunannya mau cair ya mas?”

Satu hal yang pasti bahwa komentar tadi menunjukkan besarnya harapan warga akan adanya pembangunan di kelurahan. Komentar tadi seperti meluncur polos, yang kiranya menjadi titik poin dimana ditemukannya jarak antara pembangunan dan harapan warga.

Pembangunan di Kota Solo memang bergerak cepat akhir-akhir ini, dan tidak heran masyarakat memupuk berjuta harapan terhadap hasil yang ditimbulkannya. Harapan itu berkembang menjadi fenomena dimana warga menempatkan harapan akan perubahan yang bisa saja berujung ke arah dua kemungkinan berbeda, menjadi penyelamat bagi persoalan mereka atau menjadi bilah pisau masalah baru bagi kehidupan mereka.

Kontras antara kondisi yang dicitrakan pembangunan dengan kenyataan tertangkap jelas oleh kamera saya. Buruknya kondisi lingkungan, minimnya program pembangunan fisik wilayah, menjawab dan memberi alasan yang kuat dari semua komentar yang terlontar. Masyarakat berharap ada perubahan, barangkali gambar dikamera saya akan berubah ketika saya kembali lagi beberapa bulan kedepan. Yang jelas masyarakat punya harapan besar, dan siapa yang harus memenuhi harapan kalau bukan si pelaku pembangunan. Saya tidak punya wewenang menjawab itu, kamera saya akan membuktikan ketika gambar terekam dan komentar masyarakat meluncur berbeda ke arah saya,

“Wah setelah di foto, apakah jalan dan drainase di tempat saya dibangun?”.

Di tengah harapan mereka, saya punya harapan terhadap proses yang sedang saya jalankan, semoga apa yang saya lakukan dapat menjadi pintu masuk untuk melihat realitas sosial, sehingga di masa mendatang pembangunan itu bisa menyentuh harapan masyarakat seutuhnya. Semoga kita bisa memenuhi harapan kita masing-masing.

Leave a comment

Saya Memotret Perubahan

Komentar spontan muncul dari warga ketika saya berjalan di setiap kampung di Solo, dan mengumpulkan gambar demi gambar yang mewakili kondisi di setiap kelurahan_

“Mas, kok di photo apa mau dibangun?”
“Wah, dana pembangunannya mau cair ya mas?”

Satu hal yang pasti bahwa komentar tadi menunjukkan besarnya harapan warga akan adanya pembangunan di kelurahan. Komentar tadi seperti meluncur polos, yang kiranya menjadi titik poin dimana ditemukannya jarak antara pembangunan dan harapan warga.

Pembangunan di Kota Solo memang bergerak cepat akhir-akhir ini, dan tidak heran masyarakat memupuk berjuta harapan terhadap hasil yang ditimbulkannya. Harapan itu berkembang menjadi fenomena dimana warga menempatkan harapan akan perubahan yang bisa saja berujung ke arah dua kemungkinan berbeda, menjadi penyelamat bagi persoalan mereka atau menjadi bilah pisau masalah baru bagi kehidupan mereka.

Kontras antara kondisi yang dicitrakan pembangunan dengan kenyataan tertangkap jelas oleh kamera saya. Buruknya kondisi lingkungan, minimnya program pembangunan fisik wilayah, menjawab dan memberi alasan yang kuat dari semua komentar yang terlontar. Masyarakat berharap ada perubahan, barangkali gambar dikamera saya akan berubah ketika saya kembali lagi beberapa bulan kedepan. Yang jelas masyarakat punya harapan besar, dan siapa yang harus memenuhi harapan kalau bukan si pelaku pembangunan. Saya tidak punya wewenang menjawab itu, kamera saya akan membuktikan ketika gambar terekam dan komentar masyarakat meluncur berbeda ke arah saya,

“Wah setelah di foto, apakah jalan dan drainase di tempat saya dibangun?”.

Di tengah harapan mereka, saya punya harapan terhadap proses yang sedang saya jalankan, semoga apa yang saya lakukan dapat menjadi pintu masuk untuk melihat realitas sosial ,sehingga di masa mendatang pembangunan itu bisa menyentuh harapan masyarakat seutuhnya. Semoga kita bisa memenuhi harapan kita masing-masing.

Oleh Ardian Pratomo

Leave a comment

Mungkin Solo bisa meniru??…

Oleh Michael Haggerty

Sebulan yang lalu, saya mempresentasikan Solo Kota Kita di depan konferensi sehari yang di sponsori oleh Architecture for Humanity di New York City.

Siapapun bisa berbagi informasi tentang proyek mereka selama seminar yang disebut sebagai “Design Open Mic.”. Setiap proyek memiliki gagasan dan strategi tersendiri dalam mencapai tujuan – bagi saya, ada beberapa proyek yang mungkin “sesuai / cocok dengan Kota Solo”

Salah satu proyek yang menarik adalah “micro-library”atau “perpustakaan mikro”. Proyek ini di desain oleh seorang arsitek yang bernama Heba ElGawish diperuntukkan bagi anak-anak yang tinggal di pemukiman pinggir kota di Italia yang harus pindah setelah gempa tahun 2009. Idenya sangat sederhana, yaitu perpustakaan keliling yang di kemas dengan rak-rak buku dan tempat duduk bagi delapan anak. Terbuat dari triplek, papan dan palet daur ulang, perpustakaan keliling tersebut dapat dengan mudah dilipat dan dipajang dalam ruangan.

Usai jam sekolah di Solo, selalu banyak murid lalu lalang di Kota Solo. Mereka menghabiskan siang hari bersama teman di jalan-jalan _yang merupakan ruang publik terpenting di Kota solo_ sebelum mereka pulang ke rumah masing-masing. Mungkin saja, perpustakaan mikro semisal ini di Solo bisa memberi warna baru dalam aktivitas keseharian para murid usai pulang sekolah?

Proyek lain yang juga bisa memberi sumbangan ide bagi Kota Solo adalah kompetisi pembuatan desain gerobak makanan bagi PKL oleh Architecture for Humanity di New York.

Selama bertahun-tahun, kelompok imigran dari Amerika Tengah selalu membuat tenda-tenda penjual makanan berdampingan langsung dengan lapangan “football” di setiap hari Sabtu. Baru-baru ini, Dinas Kesehatan Kota New York mewajibkan PKL membeli truk makanan yang harganya mahal agar memenuhi standar kebersihan kota. Namun ketika PKL memakai truk, maka pasar menjadi sepi dan kehilangan warna dan gairah. Kemudian, Architecture for Humanity meminta para desainer untuk mengembangkan ide bagaimana PKL tetap bisa memenuhi standar kebersihan, namun tetap bisa dekat dengan lapangan dan para pembeli.

Sebagai hasil dari kompetisi, beberapa ide telah direalisasikan oleh Dinas Pertamanan. Salah satunya adalah pembuatan kedai yang terbuat dari peti kemas. Upaya lain adalah dengan menyediakan area teduh dekat dengan truk dan PKL. Proyek ini menggunakan bahan yang murah namun cerah dan fleksibel sehingga menciptakan identitas yang menarik bagai pasar itu sendiri.

Solo sendiri sudah mempunyai pasar malam “Ngarsopuro” ataupun “Galabo”, namun masih banyak PKL lain di penjuru kota. Mungkin ide ini bisa menginspirasi cara baru menyediakan ruang dimana PKL bisa terkonsentrasi dan dimana para pembeli bisa santai sambil duduk menikmati makanan?

1 Comment

Kantor Solo Kota Kita di Jajar: Anti-tesis Ruang Kecil Perkotaan

Oleh Olivia Stinson

Olivia adalah seorang Urban Planner yang tinggal di Jakarta, yang berasal dari New York dan New Orleans. Dia datang ke Solo beberapa bulan yang lalu untuk menjadi relawan di Solo Kota Kita dan membantu menyusun Mini Atlas kelurahan

Setelah beberapa bulan di Jakarta, merupakan tantangan tersendiri bagi saya bekerja bersama dengan Solo Kota Kita (SKK) selama seminggu lamanya di kantor mereka di Jajar. I love Solo. Sangat tenang, sunyi, dan ramah dibandingkan dengan Jakarta. Solo berbisik lembut di telinga, sedangkan Jakarta berteriak di Blackberry anda.

Kantor SKK terletak di tengah pemukiman yang selalu menyembulkan nuansa dan irama tersendiri. Berada di Jajar, anda seperti terbuai untuk pelan berjalan dan menikmati sekeliling. Setelah itu, semakin banyak anda mengenal aktivitas dan hubungan sehari-hari di sana, maka anda semakin tidak sadar telah menikmati jalan, kantor dan kota kecil yang indah.

Kantor SKK merupakan rumah tua, dan kami selalu membiarkan pintu dan jendela terbuka setiap waktu. Kami semua berangkat ke kantor cukup pagi, sekitar pukul 08.00, atau sebelum itu, dan kehidupan di Jajar sudah mulai bergeliat. Ada pengamen datang di pagi itu, kemudian pedagang keliling menjajakan makanan ringan dan sate, kemudian mobil, dan orang-orang mulai bekerja, terus menerus silih berganti. Bising, orang-orang bekerja, suara ayam, anak-anak dan riuh para Ibu terdengar dari jendela kami yang terbuka.

Tidak pernah membosankan ada di sini. Ini merupakan anti-tesis dari sebuah ruang kecil perkotaan. Kami benar-benar menyatu dengan tempat ini, yang sangat sederhana namun saling terhubung dan bekerja bersama untuk Kota Solo.

Saya selalu menyukai saat makan siang. Jika anda pernah mengunjungi Indonesia, ini lah tempat nya makanan dan camilan terhebat di planet. Kita biasanya makan bersama di warung dekat kantor. Terdapat tempat makan prasmanan yang terbuka dan menyediakan masakan rumahan dengan mangkuk keramik besar dan tentunya makanan yang banyak pula.

Kepala ayam goreng? Ya. Sayuran hijau aneh dengan kelapa parut dan cabai? Ibu saya pasti suka. Tempe, tahu, ikan-ikan kecil yang digoreng dengan lumuran tepung (rempeyek). Coba dulu! Saus kari aneh dengan daging yang tak tahu dari mana asalnya? Mari pergi saja. Jangan lupa sambal pedasnya. Isi mangkuk anda, coba sesuatu yang baru, pesan aja es teh segelas penuh, dan keluyuran di jalan mencari segelas kopi – “Hello Mister”

Kami biasanya bekerja cukup hening di siang hari, dengan beberapa orang sibuk melakukan diskusi pin-up di salah satu ruang. Mahasiswa-mahasiswa arsitektur muda, seorang planner berpengalaman dari Solo, fotografer pemula, beberapa mahasiswa magang dari Harvard, dua orang kharismatik dan idealis, dan satu lagi, tentunya saya. Obrolan soal perencanaan dan kolaborasi silih berganti dari sebuah ruang berdinding biru berlantai tegel. Dengan perlahan mesin perencanaan masyarakat seperti bergerak kedepan, anda bisa merasakan energinya dalam tempo yang tepat, di tambah dengan suasana kuno khas Solo, sungguh momen yang tepat.

Sebagaimana jamaknya di Indonesia, pukul 6 sore sudah menjelang gelap. Ketika lampu di luar menyala redup dan berkedip, lampu neon yang nampak malas menerangi sudut toko dan rumah di depan kantor, kami bekerja “up and down” tergantung deadline. Ketika laptop kami kemudian berkedip bersamaan hadirnya senja, obrolan antara kami berubah menjadi “apa makan malam kita kali ini”.

1 Comment

Satu Pertanyaan Sederhana

Oleh Ahmad Rifai

Jika anda ingin melihat kelurahan anda lebih baik di masa mendatang, apa yang ingin anda lakukan?

Sepintas pertanyaan itu cukup sederhana dan kita membayangkan masyarakat tidak akan mengalami kesulitan menjawab pertanyaan tersebut. Namun ketika Tim Solo Kota Kita melakukan survei langsung ke masyarakat, hal diatas tidak lah sesederhana yang kita pikirkan.

Banyak ditemukan, terutama di komunitas miskin, masyarakat merasa keberatan menjawab pertanyaan tersebut dengan berbagai alasan:

“Saya tidak punya pendapat, ada baiknya anda bertanya pada pihak kelurahan”

“Saya hanya warga biasa, saya tidak dapat berkomentar, dan saya tidak yakin bisa memberikan jawaban yang benar”

“Orang miskin seperti saya hanya bisa setuju dengan pemerintah”

“Saya tidak tahu apa-apa untuk menjawab itu; saya hanya bisa bilang bahwa kelurahan ini sudah cukup baik”.

Kenapa orang tidak mampu menyampaikan pendapat tentang kelurahan mereka sendiri? Saya menarik dua kesimpulan yaitu pertama, bahwa memang tidak ada yang menanyakan kepada mereka pertanyaan semisal itu sebelumnya, dan kedua adalah tidak ada cukup informasi bagi warga tentang kelurahan mereka.

Kesimpulan pertama menjelaskan bahwa ada kondisi dimana warga di kelurahan tidak mempunyai kesempatan terlibat dan berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan di kelurahan. Kelompok miskin tidak pernah ditanya atau dimintai pendapat tentang kelurahan mereka.

Kemudian saya berfikir bahwa proses “marginalisasi” yang menjauhkan mereka dari proses perencanaan dan pembangunan telah membatasi akses, kesempatan dan juga hak mereka sebagai warga untuk mengeluarkan pendapat tentang lingkungan mereka.

Terkait dengan ketersediaan informasi, ada banyak informasi di level kelurahan, namun banyak orang yang tidak punya cukup akses terhadap informasi. Hal ini menyebabkan orang tidak mampu memunculkan pendapat tentang pembangunan di lingkungan mereka karena akses yang terbatas untuk menghasilkan pengetahuan dan pemahaman akan permasalahan lokal.

Sejalan dengan semangat Solo Kota Kita yaitu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang masalah perkotaan, maka saya sadar betul bahwa kenyataan ini muncul karena minimnya akses informasi masyarakat terhadap masalah disekelilingnya. Memperluas akses dan menyebarkan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat menjadi sangat penting agar mereka mampu memperkuat basis aspirasi mereka terhadap proses pembangunan atau perubahan yang terjadi di Kota Solo. Karena Solo Kota Kita berangkat dari kebutuhan masyarakat yang mendasar, maka saya yakin kegiatan ini akan memberi sumbangan signifikan pada perbaikan Kota Solo.

Leave a comment